Sejarah Balaraja





Sejarah Balaraja, Era Kumpeni hingga Kini


Oleh: Supiyatna
Praktisi Pendidikan, Tinggal di Desa Merak, Kecamatan Sukamulya




I. Balaraja dari Masa ke Masa
A. Balaraja Masa Kerajaan Banten
Balaraja yang terletak di Tangerang bagian barat yang menyimpan bukti sejarah dan titik nadirnya dimulai dari nama daerah ini. Nama kota Balaraja terdapat dua versi akar nama sejarah kota ini.
Pertama, Balaraja berasal dari kata bala (bale) dan raja. Bale berarti balai atau tempat persinggahan. Dan raja yang dimaksud di sini adalah raja yang berasal dari kerajaan Banten. Artinya tempat peristirahatan raja. Pernyataan ini dikuatkan dengan sebuah tempat pemandian yang dikenal dengan nama Talagasari (Tempat ini kemudian menjadi nama desa).
Letak tempat pemandian tersebut tepat berada di depan balai dulu gedung Kewedanaan Balaraja dan sekarang dijadikan gedung Kecamatan Balaraja tersebut. Diperkirakan berada di Klinik Aroba, tepatnya di belakang Mesjid Al-Jihad. Hal ini mengingatkan kita pada Tasik Ardi dekat Situs Surosowan, Banten.
Ada berbagai versi mengenai diri raja yang beristirahat di wilayah ini. Pertama ada yang menyatakan Raja Brawijaya dari Majapahit dan Sultan Agung dari Mataram yang tercatat dalam sejarah pernah menyerang Batavia.
Versi kedua dan ketiga ini sebenarnya kurang kuat. Jika dilihat dari bukti yang tersebar di sekitaran Balaraja kini. Bukti pertama, Patung Balaraja yang dikenal masyarakat sebagai patung Ki Buyut Talim sebagai salah satu icon pejuang Banten.
Kedua, terdapat makam Buyut Sanudin letaknya berada di Kampung Leuweung Gede Desa Parahu Kecamatan Sukamulya. Ketiga, Makam Nyi Mas Malati di Kampung Bunar, Desa Bunar Kecamatan Sukamulya. Pejuang wanita Banten di Tangerang.
Dan yang terakhir Makam Uyut Ambiya. Makam yang pernah membuat heboh seantaro Nusantara karena makam ini mendadak membesar seperti orang hamil. Dari beberapa hikayat bahwa Uyut Ambiya ini salah satu pemimpin perang Banten versus Kompeni Belanda. Sebagian orang ada yang mengatakan Uyut Ambiya ini orang yang sama dengan Buyut Talim.
Jika ditinjau dari persebaran bahasa. Di Balaraja terdapat pulau bahasa Jawa Banten yang berada di Kampung Pekong Desa Saga Kecamatan Balaraja. Kemiripan kosa kata dengan bahasa di bantaran sungai dan pesisir pantai di wilayah kerajaan Banten.
Dari bukti-bukti tersebut Balaraja sangat kental dengan perjuangan Banten melawan Kompeni Belanda yang berada di batas demarkasi sebelah Timur Cisadane. Wajar saja sebab wilayah ini dibelah oleh sungai Cimanceri sebagai jalan menuju Batavia pada waktu itu.
Adapun versi etimologi, Balaraja yang kedua. Kata Balaraja berasal dari dua kata, Yakni kata bala tentara raja kemudian untuk memudahkan sebuta disingkat menjadi balaraja. Versi ini juga mengakui bahwa bala tentara raja ini berasal dari Banten.
Jika kita kaitkan dengan bukti yang tersebar di sekitaran kota ini sangat cocok. Sebab bukti makam yang berada disekitaran Balaraja pun dipenuhi oleh makam para pejuang yang berasal dari Banten.
Nama Kota Balaraja pernah diinterpretasi oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam tausiyah di Mesjid At-Taqwa, Tanjung Karang, Bandar Lampung, 1998. Ketika itu penulis masih menjadi mahasiswa di sana. Beliau mengatakan bahwa tanda-tanda kejatuhan Soeharto itu ditandai oleh membesarnya (baca: Hamilnya) makam para pejuang Banten di desa Tobat.
Sign pada kata “Bala” bermakna bencana dan “raja” itu presiden yang berkuasa dalam hal ini, Soeharto. Tempat makam tersebut berada di desa Tobat. Bencana bagi presiden menandakan bencana yang menimpa Soeharto dan kroninya untuk segera bertobat. Kata bertobat itu merujuk pada nama desa tempat makam berada.

B. Balaraja Masa Kolonial
Sejarah Balaraja ketika zaman Kolonial Belanda tak lepas dari sejarah berdirinya Tangerang yang pada waktu itu ditetapkan sebagai kontroleur afdeling yang dikepalai seorang kontroleur. Daerah itu dibagi dalam beberapa wilayah administrasi distrik (orang Balaraja bilang: kewedanaan) yang dikepalai seorang demang (dimulai 1881)—tahun 1907 kemudian diganti dengan wedana.
Berdasarkan Staatblad van het Nederlands Indie No. 185 tahun 1918 luas wilayah tersebut 1309 Km2 yang terdiri dari distrik Tangerang, Belaraja (Blaraja) dan Mauk. Pada perkembanganya dimekarkan menjadi empat sehingga pada tahun 1934 berdirilah Kewedanaan Curug.
Dalam ranah birokrasi kolonial Belanda jabatan yang paling tinggi untuk bumiputera adalah wedana dan kepala jaksa. Jabatan ini pun pada umumnya dipegang oleh bangsawan Sunda dari Priangan atau Cirebon.
Dalam catatan sejarah kolonial Belanda yang menjabat sebagai Wedana Balaraja, antara lain: Rangga Jaban Abdoel Moehi (17 Maret 1881-1907), Mas Martomi Abdoelhardjo (17 Juli 1907-1910), Soeid bin Soeoed (31 Oktober 1910-1924), R. Soeria Adilaga (22 Mei 1924-1925), R. Abas Soeria Nata Atmadja (26 Februari 1925-1925), R. Kandoeroen Sastra Negara (28 November 1925-1918), R. Achmad Wirahadi Koesoemah (11 Mei 1928-1930), Mas Sutadiwirja (27 Oktober 1930-1932), R. Momod Tisna Wijaya (28 Mei 1932-…), Toebagoes Bakri (1 Februari 1934-1935), R. Moehamad Tabri Danoe Saputra (20 Juni 1935-1940), dan Mas Moehamad Hapid Wiradinata (17 Juni 1940-…) .
Adapun wilayah distrik tak lepas dari tanah partikelir. Jika kita konversikan sekarang tanah partikelir di Balaraja (1900-1910) tersebut terdiri dari Antjol Victoria of Daroe (sekarang masuk ke wilayah Kecamatan Jambe dan sebagian Kab. Bogor), Antjol Pasir (sekarang masuk kecamatan Jambe), Blaradja en Boeniajoe (sekarang masuk wilayah kecamatan Balaraja dan Sukamulya), Tigaraksa (sekarang masuk wilayah kecamatan Tigaraksa), Tjikoeja (sekarang masuk wilayah Kecamatan Cisoka dan Solear), Karangserang dalem of Kemiri (sekarang masuk wilayah kecamatan Kemiri), Pasilian (sekarang masuk wilayah kecamatan Kronjo), Djenggati (sekarang masuk wilayah Kabupaten Serang), Tjakoeng of Kresek (sekarang masuk wilayah kecamatan Kresek).
Tanah partikelir ini digelontorkan kepada pihak swasta untuk disewakan oleh Kompeni Belanda akibat kebangkrutan VOC. Swastanisasi tanah milik Negara merupakan solusi untuk menutupi kebangkrutan kas VOC waktu itu.
C. Balaraja Masa Revolusi
Pergolakan di Balaraja terjadi ketika pasca perang dunia II saat bom atom Hirosima-Nagasaki meluluhlantakan Jepang. Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, 1945. Efeknya Indonesia mampu merebut kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Anehnya berita kemerdekaan Republik Indonesia telat diterima oleh warga Tangerang, termasuk daerah-daerah di bawah kewenangan Kewedanaan Balaraja pada saat itu.
Pergolakan Tangerang tak lepas dari peran serta komando Resimen Tangerang yang di dalamnya terdapat lasykar rakyat. Berita dari pelaku lasykar pernah di dengar penulis dari almarhum Sersan Sawinan (mantan TRI) ketika terjadi baku tembak antara Tentara Belanda (Gurkha) dan Lasykar rakyat di Pasar Balaraja lama.
Beliau menceritakan bangunan pasar dibombardir (baca: digranat) oleh tentara Belanda. Kekaguman penulis saat itu mengarah pada struktur kekuatan beton bangunan pasar yang tetap tangguh. Mungkin sesuatu yang susah dicari tandingannya dengan bangunan di zaman sekarang.
Peperangan yang dimulai dari Cikande akhirnya membuat lasykar rakyat bergerilya masuk desa keluar desa. Korban dari kedua belah pun tak terelakan lagi.
Masa revolusi yang menjadi catatan pahit adalah zaman gedoran Cina. Peristiwa ini tercatat dalam berita jurnalistik sekitar awal Juni 1946. Kampung Parahu dan Kampung Ceplak Kewedanaan Balaraja adalah kampung yang paling banyak menelan korban warga Cina.
Peristiwa kelam ini bukan berarti melulu kesalahan pribumi tetapi memang kesalahan sistem kolonial yang membuat pribumi tertindas. Peristiwa ini pun diperparah dengan identifikasi pribumi terhadap warga Cina yang menjadi mata-mata Belanda. Kerusuhan muncul mulai dari Tangerang merambah ke daerah hingga pecah di kawasan Kewedanaan Balaraja.
Syahrir sebagai perdana menteri pada 6 Juni 1946 menyesali peristiwa penggedoran Tangerang. Esoknya Soekarno pun menyinggung peristiwa tersebut dalam pidatonya yang berjudul “Keadaan Bahaya”.
Sebagai tindak lanjut pemerintah menginstruksikan kepada Resimen Tangerang untuk melucuti senjata yang berada di tangan rakyat. Di samping itu, pemerintah pusat mengirimkan misi yang dipimpin menteri penerangan M. Natsir disertai pejabat kementrian dalam negeri, wakil Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama wakil golongan Cina, Oey Kim Seng menginspeksi tempat-tempat terjadinya kerusuhan.
Di Balaraja M. Natsir berpidato dihadapan massa dan menasihati masyarakat Balaraja. Agar kerusuhan semacam ini tidak terulang kembali karena akan merugikan pemerintah RI yang baru saja berdiri dalam meraih citra publik di mata internasional. Dibantu oleh tokoh daerah seperti Achmad Chotib, Syamoen dan Sutalaksana. Akhirnya warga pribumi dan Cina pun memahami kekeliruannya.
Ada hal yang patut menjadi perhatian bagi pembaca bahwa Balaraja pernah menjadi ibukota Kabupaten Tangerang ketika diduduki tentara Gurkha, Belanda. Pemerintah RI mengangkat R. Achyad Penna sebagai Patih Pemerintah RI beserta seluruh staf dan aparat pemerintah RI Kabupaten Tangerang mutasi ke Balaraja, jabatannya pertamanya dari 1945 hingga 1949. Selanjutnya Bupati RI di Balaraja dijabat oleh KH Abdulhadi (Juli 1946), R. Djajarukmana (1947) hingga jabatan ini kembali ke R. Achyad Penna tahun (1950-1952).
Sebagai catatan bahwa pada masa revolusi kedudukan pemerintah RI Kabupaten Tangerang berkedudukan di Balaraja kurang lebih selama 7 tahun. R. Achyad Penna sebagai orang Tangerang lulusan OSVIA Serang kemudian menjabat kembali sebagai Bupati Tangerang (1950-1952) setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah RI.
D. Balaraja Masa Kini
Kewedanaan Balaraja berkembang seiring dengan perkembangan zaman sistem ini pun dihilangkan dan masing-masing wilayah partikelir pun menjadi kecamatan. Kecamatan Balaraja, Tigaraksa, Cisoka, Kronjo dan Kresek. Selanjutnya Balaraja memekarkan Jayanti sebagai kecamatan.
Seiring dengan perkembangan zaman otonomi daerah, tahun 2007 Bupati Tangerang, Ismet Iskandar memekarkan kembali Kecamatan Balaraja sehingga jadilah Kecamatan Sukamulya. Kecamatan Kresek dipekarkan jadilah Kecamatan Gunung Kaler. Kronjo dipekarkan jadilah Kecamatan Mekar Baru dan Kecamatan Cisoka jadilah tumbuhlah Kecamatan Solear. Sebagai ancangan pembentukan Kabupaten baru yang bernama Tangerang Barat.
Secara historis Tangerang bagian barat ini sudah sepantasnya menjadi kabupaten diiringi kelengkapan potensi pendapatan asli daerah sangat memungkin. Letak geografis yang strategis di antara jalur lalu lintas nasional yang cukup padat.
Pusat Industri tumbuh dan berkembang di Kecamatan Balaraja, Jayanti dan Cisoka. Areal perumahan sebagai daerah salah satu penyangga Ibukota sudah berdiri di setiap kecamatan yang ada di daerah ini.
Potensi pertanian tersebar di wilayah kecamatan Cisoka, Solear, Jayanati, Sukamulya, Kresek, Gunung kaler, Mekar Baru, dan Kronjo. Adapun potensi kelautan dan perikanan berpusat di Kecamatan Kronjo dan Mekar Baru.

II. Identitas Budaya Tangbar
A. Budaya Berkesenian Di Tangbar
Budaya menurut Koentjoroningrat merupakan hasil cipta, rasa dan karsa suatu masyarakat. Kaitannya adalah berkesenian yang didorong karena pengolahan rasa sehingga kehalusan budi tercermin dalam pribadi masyarakatnya. Kehalusan ini akan berdampak pada aspek sosial budaya dan sosial politik.
Dari proses interaksi berkesenian inilah budaya pun menjadi pola pikir yang berpengaruh ke seluruh lini perikehidupan masyarakat. Dan menjadi ‘ruh’ pijakan pemikiran yang disadari ataupun tidak oleh individu tersebut.
Dari berbagai pengamatan dapat dideskripsikan diantaranya berkaitan dengan jiwa kesenian yang menjadi landasan munculnya hal tersebut di daerah ini, diantaranya adalah budaya yang bernafaskan religi, yang berlandaskan jejak budaya proto masyarakat tersebut pun akulturasi dengan masyarakat luar.
Di antara budaya yang berlandaskan religi, tentunya masyarakat Tangbar yang menduduki wilayah seluas 264.03 Km dengan jumlah penduduk 573.742 jiwa ini komposisi keberagaman pemeluk agama masyarakatnya adalah Islam, 572.654; Katolik, 249; Protestan, 401; Hindu, 226; Budha, 212 (Proyeksi dari Urais Kemenag Kab. Tangerang, 2008). Komposisi ini menunjukkan budaya masyarakat setempat dipengaruhi oleh ritualitas keislaman yang sangat kental.
Berkesenian secara umum berarti melahirkan jiwa-jiwa seni atau budaya masyarakat. Di Tangbar budaya Islam yang bisa dilihat adalah Marhaba Rakbi (dikenal dengan istilah Marhabaan). Uniknya, akhir tahun 80-an Marhabaan dilakukan untuk prosesi khitanan anak laki-laki. Sayangnya, prosesi ini hampir bahkan bisa dikatakan punah di wilayah ini. Penggunaan prosesi ini berbeda di wilayah Banten lainnya seperti yang dideskripsikan buku ”Profil Seni Budaya Banten” (Dispendik Prov. Banten, 2003).
Seperti di wilayah Banten lainnya, marhabaan juga digunakan untuk prosesi pemberian nama kepada si cabang bayi. Sang bayi di arak keliling ketika hadirin berdiri melantunkan Marhabaan diikuti nampan dengan lilin dan kelapa muda yang dihiasi pernak-pernik uang. Pada saat diarak itulah cukuran terhadap bayi tersebut dilakukan dan rambut hasil cukuran dimasukan ke dalam kelapa muda. Menurut Ust. H. Nawawi (alm.) jika orang tuanya berkelebihan, hasil cukuran ditimbang kemudian digantikan dengan emas, emas pun dijual hasilnya kemudian disedakahkan atau dijariahkan.
Keunikan lain, dari kebiasaan masyarakat islam Tangbar yakni selalu dikumandangkannya pembacaan manakib Syekh Abdul Qodir Jaelani atau lebih dikenal dengan istilah mamaca. Saat penduduk akan melakukan malam pengisiian rumah baru, pesta perkawinan, ataupun acara selamatan lainnya. Moment yang paling khas pada prosesi mamaca pengisian rumah adalah di kala sesi pantek paku.
Adapun pada bagian pupuh tertentu terdapat acara Numbak, yakni mencoba meramal nasib ke depan dengan menyelipkan uang recehan atau kertas pada lembaran halaman manakiban tersebut. Memorial acara ini mengingatkan penulis di rumah KH Djasmaryadi ketika Pak Tile melantunkan pupuh demi pupuh dengan suaranya yang merdu. Mamaca masih tumbuh subur tetapi kebiasaan ikutannya sudah jarang dilakukan masyarakat saat ini.
Kesenian rakyat Tangbar lain yang hampir punah adalah Terbang peninggalan Ibu Nyi Mas Malati sebagaian ada yang mengatakan peninggalan Syekh Nawawi Al-Bantani yang sekarang dipimpin Bapak Sakib di Desa Bunar, Sukamulya. Grup kesenian dimainkan oleh lima orang pemain (2 pemain rebana, 1 pemain kecrek, 1 pemain rebab dan seorang sebagai pedendang shalawat). Yang menyedihkan tidak ada perawat, penggali, dan penerus kesenian ini. Diprediksi kurang dari 1 dekade lagi peninggalan kesenian ini tinggal nama saja.
Satu alat kesenian lagi yang konon nasibnya akan sama adalah gambang, angklung, dan bedug peninggalan Ki Buyut Kati dari Tonjong, Kresek. Diperkirakan kemunculan kesenian buhun ini tidak jauh dari masa keemasan Terbang Ibu Nyi Mas Malati (1658-an). Salah satu tokoh fenomenal di wilayah ini. Pijakan hukum untuk menjaga budaya ini yang dapat dijadikan landasan adalah UU No. 5 Thn. 1992 tentang Benda Cagar Budaya Pasal 18 (1) dan UU No. 19 Thn. 2002 tentang 2002 tentang Hak Cipta Pasal 10 (1) & (2) sehingga tidak ada lagi ewuh pakewuh atau ‘kebakaran jenggot’ dikemudian hari atas pengklaiman budaya tersebut.
‘Alam’ kesenian rakyat yang tidak banyak diminati pemuda saat ini antara lain antara lain kesenian wayang golek. Hasil wawancara penulis dengan penggiat kesenian rakyat wilayah ini tinggal 3 grouf wayang golek yang masih eksis di wilayah ini, antara lain: grouf wayang golek Murta Ponah I pimpinan Dalang Murjana (Sukamulya), Murta Ponah II pimpinan Dalang Mursidin (Sukamulya), dan Gentra Lodaya II pimpinan Dalang Agus Baskara (Pangkat-Jayanti). Dua dalang terakhir ini konon kabarnya, sudah diakui di kancah nasional.
Dari data yang dapat dihimpun kesenian rakyat lain yang masih eksis adalah topeng. Kesenian ini mirip dengan lenong Betawi atau lebih mirip dengan lakon jenaka.
Di antara grouf topeng yang masih aktif berdasarkan penelusuran di daerah ini antara lain grouf Topeng Gentong pimpinan Gr. Usup (Parahu-Sukamulya), Sinar Balebat pimpinan Bpk. Markata (Benda-Sukamulya), Centong pimpinan Bpk. Said (Tonjong-Kresek), Giri Asih pimpinan Bpk. Saudi (Koper-Kresek), Odah-Saputra pimpinan Ibu Odah (Bojong Manuk-Kresek), Eroh pimpinan Bpk. Cekong (Cempaka-Cisoka), Canung pimpinan Bpk. Canung (Cempaka-Cisoka), Mekar Wangi pimpinan Bpk. Padil Irawan (Pangkat-Jayanti).
Dari sekian grouf topeng ini ke-eksistensian-nya ditentukan para nayaga-nya yang hanya bergantung pada frekuensi panggilan para peminatnya saja. Oleh karena itu, diperlukan adanya perhatian khusus para inohong sehingga keberadaanya menjadi ikon wisata budaya daerah ini.
Harapan yang diperlukan adanya design khusus untuk memajukannya dengan inovasi kekinian dalam rangka mendongkrak devisa daerah. Budaya-budaya rakyat yang ada pun tidak hanya sebagai simbol dalam seremonial untuk tujuan mempresentasikan keberadaan kesenian saja tetapi menjadikan wahana sosialisasi program kerja unggulan Pemda dan bangsa yang berdampak pada peningkatan indeks pembangunan manusia dan kehalusan budi masyarakat yang semakin terkikis.
B. Budaya Politik Tangbar
Demokrasi menjadi pilihan bangsa kita yang majemuk terutama dalam rangka memajukkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pilihan ini yang kemudian menjadikan proses yang memakan waktu dan kesabaran untuk menjadikan masyarakat kita melek dalam berpolitik dan menyalurkan hasrat politiknya. Tentu saja proses pengkaderan melek politik ini telah dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan sejak usia dini hingga manula.
Keharusan pendorong partisipasi masyarakat bagi 399,427 jiwa dari 203,796 laki-laki dan 195,631 wanita – Total DPS HP* pada 9 kecamatan di Tangbar – yang menjadi pemilih tetap pada perhelatan Pilpres setahun lalu, akan menjadi ampuhkah nanti? Tentu, jawabannya ada dikemudian hari. Bagi bukan menang atau kalah tetapi persentase tingkat partisipasi masyarakat tersebut ketika pesta digelar. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa pada saat lepas dari perhelatan tersebut? Ternyata kita masih punya PR tentang ini. Kita semestinya mendidik masyarakat kita agar melek politik dalam rangka meminimalisir kekurangan dan kecurangan pesta tersebut.
Masih terbayang oleh ketika masih duduk di bangku SMA, waktu itu, tidak ada bahasa money politics dalam Pilkades. Namun di penghujung tahun ’90-an saat Pilkades kembali hadir penyakit itu tiba-tiba menggerogoti naluri pemilih. Entahlah budaya semacam itu muncul di Tangbar. Patogensi masyarakat pun semakin menggila-gila. Penulis tidak ingin mengungkapkan dari mana ‘virus’ itu muncul. Tetapi bagaimana menghilangkan perlahan-lahan atau jika mampu sekaligus, sehingga tidak menjadi penyakit yang akut tingkat tinggi dan melumpuhkan pesta demokrasi di kampung kita.
Solusinya adalah mendidik politik bersih dengan kesenian dan perhelatan dalam ritual keagamaan sehingga penghematan bisa dilakukan. Karena pada saat itu semua lapisan masyarakat hadir dan bisa tampil dalam rasa kebersamaan – atau dalam istilah ke-guyub-an. Tumpah ruahnya masyarakat disaat jauh sebelum menjelang pesta demokrasi menjauhkan anggapan apriori dan alergi masyarakat terhadap politik.
Kaum muda dan kalangan intelektual harus bergerak ke depan dan mulai diberi kesempatan untuk sebuah tanggung jawab atas kemajuan yang dimulai dari perubahan atas kampung halamannya. Stagnasi akan lincah dengan sendirinya dalam proses dinamisasi zaman jika ditata dengan sebuah harapan baru. Maka budaya politik baru akan muncul di tanah ini dengan optimisme yang dipandu oleh jiwa bijak dari sesepuh sebagai pengejawantahan janji yang telah terucapkan!
Tinjauan kesenian sebagai dagangan yang bermartabat belum muncul di wilayah ini. Padahal kesenian akan memberikan dampak yang infiltratif yang halus, lembut dan tumbuh dalam jiwa setiap insan. Plus disokogurui dengan kegiatan ritual religi yang mampu mengarahkan keguyuban dalam membelai manusianya untuk berfikir dan menjadikan wilayahnya baldatun toyibatun warabun gofur.
Dari kesadaran menjaga warisan budaya guyub inilah warga Tangbar tetap terjaga ketentramannya dari berbagai sudut. Masyarakatnya yang someah terhadap pendatang dan berangkulan dalam setiap perhelatan akan tetap terjaga jika diwasiti tanpa kepentingan oleh setiap aparatur baik oleh pemerintah dan pemerintah daerah.
III. Globalisasi dan Prilaku Orang Tangbar
Arus industrilisasi mengepung kampung-kampung di Tangerang Barat perubahan mendasar pun terjadi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Corak tata cara ini juga yang membuka cakrawala bahkan tujuan hidup bagi masyarakat di sini. Masyarakat agraris akan berbeda dengan masyarakat industri sebab hal ini berkaitan dengan kegiatan orang yang berkejaran dengan target eksistensi personalitas.
Masyarakat agraris lebih banyak menciptakan budaya guyub, gotong royong. Yang melibatkan banyak orang tanpa pamrih atau sekedarnya. Adapun masyarakat industri akan berlomba untuk mengumpulkan pundi-pundi pribadi sehingga hasil dari eksistensi diri lebih menonjol daripada kolegial.
Gairah masyarakat industri lebih dinamis, cepat dan praktis sehingga waktu merupakan hal yang begitu penting, time is money. Berbeda dengan masyarakat agraris yang lebih tergantung pada alam sehingga waktu pun bergantung pada iklim. Waktu pun tidak begitu ketat mengatur perikehidupan masyarakat ini.
Simpelnya, masyarakat agraris itu didominasi pemilik dan masyarakat industri didominasi buruh. Kedudukan masyarakat agraris didominasi sebagai bos dan masyarakat industri didominasi pekerja (buruh). Maka perbedaan ini akan mengubah sirkulasi sentuhan antarorang dan perilaku dari kedua masyarakat secara kontras.
A. Perilaku Masyarakat Tangbar Dahulu
Masyarakat Tangerang Barat dahulu terkenal dengan kekuatan silaturahminya. Dahulu orang mengenal dengan istilah ampihan, artinya tempat seseorang yang ditokohkan sehingga banyak orang lain berkumpul untuk kongko-kongko saja atau memecahkan suatu masalah di tempat tersebut.
Ampihan inilah yang menyebabkan orang dari daerah lain mampu mendeteksi letak dan posisi anggota masyarakat yang dikenalnya berada. Ampihan ini pula yang menjadi simpul ketika undangan menggarap sawah, mendirikan rumah, kerja bakti membersihkan kampung, musibah ketika kehilangan orang (meninggal) atau kegiatan tahlilan yang akan dilaksanakan.
Dari ampihan ke ampihan yang lain inilah yang menjadikan budaya guyub di setiap desa di daerah Tangerang barat. Kegiatan komunikasi mulut ke mulut waktu itu menjadi jembatan yang paling sukses. Stasiun informasi pun cukup diparkir di satu ampihan dan setiap orang yang menjadi anggota menyerapnya. Timbulah kegiatan ngariung sebagai pola kehidupan bukan saja di saat momen kenduri tetapi dalam segala hal.
Dahulu mudah saja menggerakan sekelompok pemuda/i untuk menggarap sawah cukup dengan memberi makan siang dan malam. Dahulu dengan mudah melihat sekelompok pemuda nonton hiburan wayang atau topeng berjalan beriringan sambil saling lempar guyonan.
Penghargaan terhadap pemudi (baca: wanita) pun luar biasa dari pemuda-pemuda Tangbar. Ketika mereka mengencani kekasihnya itu tidak sendirian tetapi diiringi teman-temannya.
Jika pemuda mengajak kekasihnya nonton hiburan. Yang bergembira bukan saja kekasihnya tetapi orang tua wanita juga sebab sang pemuda biasanya akan membawa oleh-oleh penganan seperti bacang, leupeut, bebodor, dan kacang sangrai yang cukup banyak. Konon, bisa sebakul bahkan sepikulan. Hal ini dilakukan baik oleh si miskin apalagi yang kaya.
Kriteria pemilihan pemuda calon mantu pun berdasarkan pada skill sang pemuda yang sudah pintar atau mampu menyangkul, ngored, ngawaluku atau pintar menggergaji dan mengampak kayu. Begitu pun pemilihan terhadap pemudinya. Pemudi yang siap dinikahkan itu pemudi yang sudah pintar ngakeul, ngejo, nandur, dan ngetem dalam tibuat, panen padi.
Sistem berkelompok ini juga dilakukan oleh pemuda/i yang selepas magrib saat berangkat mengaji. Jika pemuda, akan berada di depan atau di belakang membawa obor dan pemudinya berada di tengah sambil menjungjung Quran tangan kirinya, tangan kananya memegang obor sehingga jika dilihat dari kejauhan seperti untai naga yang membelah malam.
Budaya pembuatan obor ini pun berlangsung ramai saat malam takbiran. Di setiap pojok kampung terdapat obor. Beduk langgar pun berbunyi dimainkan oleh sekelompok pemuda. Biasanya dilanjutkan hingga 7 hari pasca lebaran. Biasanya disebut ngadu beduk istilahnya beduk barungan.
Berkumpulnya penduduk pada saat lebaran berlangsung di saat dan tempat tertentu. Biasanya H + 1 para penduduk menjejali pemakaman. Pemakaman yang ramai itu di antaranya Makam Salak, Balaraja; Makam Sumur Bandung, Jayanti; Makam Keramat Solear, Solear; dan Makam Pangeran Jaga lautan, Pulo cangkir-Kronjo.
Penulis terkesan dengan banyaknya penduduk, pedagang, dan ramainya petasan dalam berbagai jenis yang di bakar pengunjung di Makam Salak, Balaraja. Terasa saat itu pemuda/i dari berbagai ampihan berkumpul di tempat tersebut untuk saling sapa atau jual tampang pada lawan jenisnya.

B. Perilaku Masyarakat Tangbar Di Era Globalisasi
Seperti kita ketahui Tangerang adalah negeri seribu industri. Begitupun Tangerang Barat menerima cipratan arus industri ini sehingga pola perilaku masyarakat Tangerang Barat lambat laun berubah.
Industri biasanya memberikan banyak peluang pekerjaan bagi banyak orang. Orang dari berbagai daerah berkumpul di Tangerang Barat sehingga banyak urban dari daerah Lampung, Palembang, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bima, Sulawesi, Kalimantan, Indonesia Timor pun berkumpul. Akibat ini pun membuka pelung orang asing dari Cina, Korea, Jepang, Eropa bekerja di sektor ini.
Dari persentuhan budaya dan aktifitas pun mengubah pola pergaulan masyarakat setempat. Walaupun di masa lalu sudah banyak warga pendatang sudah ada seperti pedagang dari priangan, Jawa tengah, Jawa timur, Madura dan Makasar sudah hadir di sini. Begitu juga warga Cina sudah ratusan tahun mendiami daerah Tangerang Barat.
Masyarakat Tangerang Barat pada dasarnya welcome terhadap para pendatang. Dan tidak protektif buktinya banyak penduduk di sini yang menikah dengan penduduk luar. Akulturasi pun membentuk pola tingkah laku yang beragam.
Pemuda Tangerang Barat pun tetap berkerumun tetapi tidak berada di ampihan. Mereka di warung, cape, atau toserba. Sebagian ada juga yang berkumpul di pinggir jalan, pos Kamling tetapi sifat mereka selalu nomaden.
Pola pergaulan individualistis juga menjadi trend individu. Mereka yang memiliki kendaraan dengan mudah berkencan dengan pujaan hatinya. Kehidupan pun berubah nafsi-nafsi atau siasia-aingaing.
Yang menjadi preseden buruk bagi paradigma berfikir penduduk Tangerang Barat yakni dalam hal pendidikan. Akibat arus industri ini paradigma berpikir berpendidikan. Kalau dulu Orang-orang Tangerang Barat kebanyakan sekolah untuk mendapatkan kemampuan yang mumpuni. Sekarang banyak penduduk yang berpikir bahwa sekolah asal lulus dan muaranya adalah bekerja di Pabrik.
Masalah asal-muasal pendidikan, besar-kecilnya nilai, bahkan tinggi-rendahnya pendidikan bukan ukuran. Fenomena ini disebabkan tidak ada sistem yang membedakan karena pemerintah maupun perusahaan tidak memberikan ruang untuk kreatifitas dan prestasi seseorang. Misalnya saja seorang sarjana yang bekerja di satu bagian produksi akan digaji sama dengan lulusan SD.
Parahnya lembaga pendidikan pun tidak mampu memasok manusia yang berkualified untuk menduduki jabatan yang disediakan juga virus KKN pun telah menjalar di dunia industri. Akibatnya, paradigma ini menjadi patokan dari tujuan akhir orang-orang Tangerang bersekolah.
Oleh karena itu, kejelian terhadap fenomena negatif ini harus menjadi konsen bagi pemerintah maupun pemerintah daerah. Orang-orang Tangerang Barat perlu diberikan pencerahan dalam hal ini sehingga patut kiranya garansi bagi orang yang berprestasi dan berkarakter oleh pemerintah, khususnya pemerintah daerah.
Walhasil, konservasi sumber daya manusia yang berprestasi perlu digalakkan di negeri demarkasi agraris dan industri ini.

sumber

Previous
Next Post »